Translate

Selasa, 29 September 2015

naskah drama 8

Naskah Drama  [MALIN KUNDANG] [9 Pemeran]

[ADEGAN 1 – Rumah Ibu Malin]
Narator : Di suatu desa hiduplah anak laki-laki bersama dengan ibunya. Hidupnya sengsara dan miskin. Anak itu bernama Malin. Malin sangat disayang ibunya karna sejak kecil, Malin sudah di tinggal mati oleh ayahnya. Ketika Malin sudah tumbuh dewasa, ia mulai berpikir untuk merubah kehidupan ekonomi keluarganya.
Ibu : Malin, datang ke sini nak. Bantu ibu membawa kayu bakar ini.
Malin : Ya ibu, tunggu sebentar (Malin membantu ibunya). Ibu, berapa lama kita akan bertahan dengan kondisi seperti ini? Aku ingin merubah kehidupan ekonomi kita ini, Bu.
Ibu : Entahlah, ibu tidak tau Malin, kita harus bersabar dan jangan berhenti berdoa kepada Tuhan.
Malin : Ibu, aku punya ide. Biarkan aku pergi untuk mengubah nasib keluarga kita.
Ibu : Hah?! (terkejut). Pergi kemana Nak?
Malin : Tadi, ketika aku sedang dipasar, ada seorang saudagar kaya yang menawariku pekerjaan. Dia berkata bahwa dia sudah memperhatikanku sejak lama dan hatinya tergerak melihat diriku yang rajin bekerja. Ia pun mengajakku untuk menjadi salah satu pekerjanya dan ikut bersamanya ke pulau seberang.
Ibu : Apakah kau menerima tawaran itu Nak?
Malin : Iya bu, aku langsung menyetujuinya.
Ibu : Ibu pikir itu bukan ide yang baik anakku. Jika kamu pergi, siapa yang akan menjagaku disini?
Malin : Sebenarnya, Malin juga tidak tega meninggalkan ibu sendiri. Tapi, Malin tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Malin berjanji akan kembali dan menjadi orang yang sukses. Ibu tenang saja, aku akan berbicara dengan Putri, supaya menengok Ibu setiap hari hingga aku kembali ke rumah.
Narator : Ibu Malin tidak bisa melarang apa yang di inginkan Malin karena Malin sudah bertekad. Akhirnya, sang ibu setuju dengan ide Malin.
Ibu : Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Tapi, kamu harus pegang janjimu untuk kembali ke sini. (Malin mengangguk)
***
[ADEGAN 2 – Rumah Putri]
Narator : Malin pun pergi kerumah Putri untuk meminta bantuan Putri agar menjaga ibunya selama dia merantau. Putri merupakan sahabat Malin yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka.
Putri : Mau kemana kamu, Malin?
Malin : Besok, aku akan pergi merantau.
Putri : Apa? (terkejut). Jika kamu pergi merantau, siapa yang akan menjaga ibumu disini?
Malin : Karena itu, aku mendatangimu. Aku mau minta tolong kepadamu untuk menjaga ibuku, tengoklah ia setiap hari hingga aku kembali.
Putri : Oh, baiklah kalau begitu. Ingatlah pesanku jangan lupakan kita yang ada di sini, Malin.
Malin : Iya.
***
[ADEGAN 3 – Pelabuhan]
Narator : Keesokan harinya, sesuai janjinya, Ibu Malin mengantarkan anaknya ke pelabuhan.
Ibu : Jaga dirimu baik-baik, Nak. Cepatlah pulang, 
Malin : Ya bu, doakan Malin supaya Malin mendapat rejeki yang banyak.
Ibu : Iya, hati-hati di jalan.
***
[ADEGAN 4 – Kapal]
Narator : Malinpun memulai perantauannya. Ia pergi berlayar bersama saudagar kaya. Saudagar itu memberikan Malin pekerjaan sebagai karyawan. Saudagar tersebut mempunyai putri semata wayang yang bernama Risa. Ketika Malin melihatnya, ia langsung jatuh hati. Risalah yang membuat Malin untuk lebih semangat bekerja.
***
[ADEGAN 5 – Rumah Ibu Malin]
Narator : Di kampung halaman Malin, Ibu Malin sangat gelisah dan khawatir dengan anaknya. Beliau takut jika Malin tidak pulang kembali ke kampung halamannya dan melupakan sosok ibu yang melahirkannya.
Ibu : Putri.. aku rindu dengan Malin. Kira-kira kapankah Malin kembali? Apa Malin baik-baik saja saat ini? Aku takut...
Putri : Jangan takut, Bu.. Malin pasti pulang, ia telah berjanji. Sementara itu, biarkan aku yang menjaga Ibu.
Ibu : Ya, terima kasih Putri. Entah, apa jadinya aku tanpamu.
Putri : Jangan terlalu di pikirkan Bu..
***
[ADEGAN 6 – Kapal]
Narator : Semakin hari, semakin gigih semangat Malin untuk bekerja lebih giat. Sehingga pada suatu hari, Saudagar memanggil Malin.
Teman Malin : Lin, kamu di cari sama Kapten di ruangannya.
Malin : Benarkah? Baiklah, terima kasih. (meninggalkan temannya)
***
[ADEGAN 7 – Ruangan Saudagar Kaya]
Malin : (mengetuk pintu ruangan saudagar kaya)
Saudagar : Masuk..
Malin : Apakah anda memanggil saya?
Saudagar : Ya.. selamat Malin! Jabatanmu baru saja ku naikkan! (tersenyum). Semoga kamu senang dengan jabatan barumu. Kamu bisa melihat ruangan barumu.
Malin : terima kasih, ( nunduk kepala, meninggalkan ruangan saudagar)
***
[ADEGAN 8 – Ruangan Malin]
(Malin masuk keruangan barunya, lalu duduk di kursi barunya dengan kaki terlipat di atas-tangannya dilipat di depan dada, lalu tersenyum sinis)
Malin : Sekarang aku kaya raya. Aku dapat membeli semuanya dengan uangku. Karena itu, Risa pasti mau menikah denganku.
***
[ADEGAN 9 – Rumah Ibu Malin]
Narator : Semakin hari ibu Malin semakin merindukan anaknya, membuatnya semakin lelah di usia tuanya. Namun, Putri selalu memberikan dukungan untuk Ibu Malin, bahwa Malin baik-baik saja dan akan kembali ke kampung halamannya.
Putri : Jangan sedih Bu...
Ibu : Aku lelah Putri.. Kita telah menunggu Malin selama berbulan-bulan, tetapi tidak pernah mendapatkan kabar sedikitpun dari Malin.
Putri : Percayalah bu, Malin pasti kembali dan menjadi orang yang sukses.
Ibu : Terima kasih Putri, jika tidak ada kamu, aku pasti kesepian.
Putri : (mengangguk, tersenyum)
***
[ADEGAN 10 – Rumah Malin]
Narator : Karena kerja keras, Malin berhasil menjadi orang kaya. Sesuai dengan keinginannya, Malin menikahi Risa. Mereka hidup bahagia, dan menjadi pasangan yang romantis.
(Risa masuk keruangan Malin-tanpa mengetuk pintu. Berjalan menuju meja kerja Malin, lalu duduk di atas meja kerja Malin. Malin duduk di kursi-berhadapan dengan Risa, Malin sedang sibuk dengan map yang dipegang dan dibukanya)
Malin : (megang map, melihat-lihat isi map-sambil melirik Risa.) Ada apa dengan muka mu? Hm?
Risa : Malin...
Malin : hm? (melihat Risa)
Risa : Aku bosan... Bagaimana kalau kita pergi berlibur?
Malin : Sepertinya itu ide bagus. Bagaimana kalau pergi ke Pulau Dua Bebek?
Risa : Wah, pulau itu sangat bagus, Aku setuju..
Malin : Baiklah, besok kita akan berangkat.
***
[ADEGAN 11 – Kampung halaman Malin]
Narator : Seperti janji Malin, Malin dan Risa berlayar ke Pulau Dua Bebek. Dalam perjalanannya mereka singgah ke kampung halaman Malin, untuk mengisi berbagai perbekalan. Tapi, Malin tidak menemui Ibunya, ia hanya berjalan-jalan di sekitar dermaga saja. Ketika itu, Putri – sahabatnya, melihat Malin dan Istrinya – Risa.
Putri : Malin? Apakah dia benar Malin? Ya, pasti itu Malin. Aku harus mengatakan itu pada Ibu! (berlari menuju rumah Ibu Malin).
***
[ADEGAN 12 – Rumah Ibu Malin]
Narator: Putri berlari menuju rumah Ibu Malin. Mengatakan bahwa Malin sudah kembali dan menjadi orang kaya.
Putri : Bu~ Ibuu...
Ibu : Yaa~ ada apa Putri?
Putri : Ibu, Malin telah kembali. Ia ada di pelabuhan sekarang, dan menjadi orang kaya!
Ibu : Hah? Benarkah? Apakah benar yang kamu lihat itu Malin?
Putri : (mengangguk) Ya, aku yakin Bu. Itu pasti Malin.
Ibu : Ayo, kita ke pelabuhan sekarang!
***
[ADEGAN 13 – Dermaga]
(Putri mendampingi Ibu Malin untuk menemui Malin. Sesampainya di pelabuhan, Ibu Malin melihat Malin, dan memanggil nama Malin dari kejauhan, kemudian mendekati Malin)
Ibu : Malin... Malin anakku!
Risa : Siapa wanita tua itu, Malin? (kepalanya terangkat, menunjukkan ‘wanita tua’ yang di maksud)
Malin : (Tak menjawab pertanyaan Risa, menatap Ibunya dengan sinis)
Risa : Jawab aku Malin! Siapa wanita tua itu? (menatap Ibu Malin dengan tatapan jijik)
Ibu : Siapa wanita ini Malin? Apakah ia istrimu? Sungguh wanita yang cantik... (membuka tangan untuk memeluk Risa)
Risa: (menepis tangan Ibu Malin) Jangan sentuh aku!
Malin : Jangan menyentuhnya! Dasar wanita kotor! Kulitmnu bisa mengotori kulitnya! (memegang dan menjauhkan tangan Ibunya secara kasar)
Risa : Siapa wanita tua ini Malin? Ia sungguh sangat kotor!
Malin : Aku tidak tau! Aku tidak mengenal wanita ini.
Ibu : Malin anakku.. ada apa denganmu, Nak? Apa salah Ibu? Aku ini Ibumu. Ibu yang melahirkanmu. Kamu telah berjanji untuk kembai ke kampung ini untuk menemuiku! Apa kau lupa dengan janjimu sendiri?
Malin : Ibu? Janji? Mengaku-ngaku saja kau! Aku tidak pernah mengatakan janji apapun dan tidak pernah mengenalmu, wanita tua!
Ibu : MALIN!!! Aku ibumu! Ibu yang melahirkanmu!
Risa : Dengar yang di katakan Malin kan? Dia tidak mengenalmu, jadi pergi saja kau wanita tua!
Ibu : Malin... Malin anakku!!
Putri : MALIN! Lupakah kamu dengan Ibumu? Lupakah kamu dengan janjimu untuk kembali? Celakalah kau, Malin!
Malin : Aku tidak pernah membuat janji kepada kalian. Kalian hanya menghabiskan waktuku saja. Pengawal, bawa dua wanita ini pergi dari sini!
Pengawal : Baik Tuan.(Pengawal mendorong Putri dan Ibu Malin hingga jatuh.)
Ibu : Malinn... Anakku!
Malin : Jangan panggil aku anakmu! Aku tidak mempunyai ibu kotor sepertimu. Berhentilah membual! Ayo, kita pergi dari sini Risa!
Risa : Baiklah, ayo!
(Malin dan Risa pergi ke kapalnya.)
Ibu : Malin... Malin...
Ibu : Jika kau tidak menganggap ibumu, aku tidak akan segan-segan mengutukmu Malin! Anak DURHAKA!
Malin: (Berbalik, menghadap ibunya) Silahkan saja, aku tidak merasa kau ibuku!
Ibu : benar-benar anak durhaka! Kamu berani menantangku? Jangan sampai kau menyesal sudah berbuat itu padaku!
Malin : Buktikan saja!
Ibu : MALIN. TERKUTUKLAH KAU MENJADI BATU!
Suara gaib : Oh Malin, anak durhaka. Permohonan Ibumu kukabulkan. Tubuhmu akan mati rasa, dan berubah menjadi batu.
Narator : Di tengah siang yang panas, tiba-tiba muncullah suara petir menggelegar, dan langit menjadi gelap 
(Suara petir muncul)
Malin : aarrrggg!! (berbubah menjadi batu)
Narator : Malin pun berubah menjadi batu. Itulah akibat dari anak yang tidak menghormati, tidak menuruti, dan tidak berbakti kepada orang tuanya. Nah teman-teman, janganlah kita menjadi seperti Malin. Hormatilah orang tua kalian selagi masih ada....
Semua pemain : Terimaaa kasihh~~~


LEGENDA DANAU TOBA
BABAK 1
Terdapatlah seorang pemuda miskin yatim piatu bernama Tuba. Tuba tinggal seorang diri di sebelah utara Pulau Sumatera. Ia hidup dengan bertani dan memancing ikan.
Pada suatu hari, ketika ia memancing, ia mendapatkan ikan tangkapan yang aneh. Tuba yang kaget , lalu berseru dengan logat bataknya yang masih kental.
Tuba : “Wah, besar kali ikan ini bah! Cantik kali.”
Tuba lalu melepas pancingnya dan memegangi ikan itu. Namun saat tersentuh tangannya, ikan itu berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Lalu, Tuba pun terlibat perbincangan menegangkan dengan wanita sang jelmaan ikan.
Tuba: “Kau? Kau ikan yang tadi aku pancing?
Wah… cantiknya! Tapi, kamu tak mungkin seorang manusia biasa.
Beritahu aku siapa kamu sebenarnya!”
Putri ikan: “Aku adalah seekor ikan mas yang dikutuk olah para dewa karena telah melanggar sebuah aturan. Dan jika tubuhku tersentuh oleh tangan, maka aku akan berubah wujud menjadi sama seperti wujud makhluk apa yang telah menyentuhku. Kearena aku telah kau sentuh, aku berubah menjadi sama seperti kamu, manusia.”
Tuba: “Begitu rupanya nasib kau. Cantik-cantik tapi kena kutuk. Berarti kau tak punya tempat tinggal kan?”
Putri ikan: (mengangguk sambil tersenyum)
Tuba: “Ya, kau ikut sajalah ke gubuk milikku, kebetulan aku tinggal sendirian.” (sambil seraya menggandeng tangan putri ikan)
Putri ikan: (berjalan mengikuti Ucok)
Sejak saat itu, wanita itu pun tinggal bersama Tuba di gubuk milik Tuba. Tuba terlihat sangat bahagia karena sang wanita ikan itu sudah sangat membantunya dalam berbagai pekerjaan rumah
Hingga pada suatu hari Tuba berkeinginan untuk meminang sang Putri Ikan.

Tuba: “Inang, maukah kau menjadi istriku? Aku merasa senang apabila kau ada disini, dan aku akan lebih senang lagi bila kau mau menjadi istriku.”
Putri Ikan: (mengangguk) “Aku mau menjadi istrimu, bang. Tapi, aku mau abang berjanji untuk tetap merahasiakan kepada siapapun bahwa aku adalah seekor ikan.”
Tuba: “Gampang lah itu Inang. Akan aku jaga rahasiamu itu kepada siapapun.” (tersenyum gembira)
Lalu merekapun menikah.

BABAK 2
Lima tahun berlalu sudah. Mereka dikaruniai seorang anak yang lucu dan lincah, bernama Ucok.
Namun anak mereka selalu merasa lapar.
Walaupun sudah banyak makanan yang masuk ke dalam mulutnya, ia tak pernah
merasa kenyang.
Suatu hari, karena begitu laparnya ia menghabiskan semua maakanan yang ada di meja,
termasuk jatah makanan kedua orang tuanya. Ayahnya pun pulang dari ladang.
Tuba: “Bah, lapar kali aku. Enak kali kalau aku makan masakan istriku.” (berharap)
Tuba: (membuka tudung saji lalu mengerenyitkan dahi)
“Ucok!!!! Kau kemanakan semua makanan masakan Inang kau?”
Ucok: “Sudah Ucok habiskan lah, Amang. Lapar kali Ucok habis main di ladang”
Tuba: “Dasar anak ikan! Rakus kali kau!” (geram)

Ucok menangis, lalu berlari pergi menemui ibunya di ladang.
Putri ikan: “Mengapa kau menangis anakku?” (bingung melihat anaknya menangis)
Ucok: “Inang, benarkah aku ini adalah seorang anak ikan?”
Putri ikan: “Siapa yang bierkata padamu, Nak?” (terkejut)
Ucok: (diam sambil tersedu-sedu)
Putri ikan: “Jawab ibu, Nak!”
Ucok: “Amang yang berkata itu padaku, Inang. Amang bilang aku adalah seorang anak ikan, makanya aku rakus. Benarkah itu Inang? Amang bohongkah Inang?”
Putri ikan: (diam dan mulai menitikkan air mata)
Ucok: “Jawab Ucok, Inang! Amang hanya berbohong kan, Inang?”
Putri Ikan: “Iii…ya Ucok, Amangmu itu benar sekali. Aku adalah anak ikan. Inangmu ini adalah seekor ikan sebelum Inang menikah dengan Amang.”
Ucok yang mendengar jawaban dari ibunya, semakin menangis tersedu-sedu. Ia tak mengira
bahwa selama ini dirinya adalah anak ikan.

BABAK 3
Jauh di rumahnya, Tuba baru tersadar bahwa ia sudah melanggar janjinya kepada sang Putri Ikan.
Ia sangat menyesali perkataanya terhadap anaknya bahwa anaknya adalah anak ikan.
Lalu, ia cepat-cepat bergegas pergi mencari anaknya ke ladang. Sesampainya di ladang
Tuba: “Inang…..”
Putri Ikan: “Kau sudah melanggar janjimu kepadaku. Sekarang aku dan anakmu akan pergi. Selamat tinggal.” (berdiri menatap ke langit)
Tuba: “Jangan Inang, maafkan aku. Aku memang salah, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Namun, tolong Inang dan Ucok jangan pergi tinggalkan aku. Aku sangat menyayangi Ucok dan Inang.”
Namun, semuanya sudah terlambat, sang Putri Ikan dan anaknya perlahan naik ke atas langit dan
kemudian menghilang dari pandangan suaminya. Tuba pun berusaha memanggil istri dan anaknya.
Tapi, istri dan anaknya tetap terbang menuju langit biru dan kemudian menghilang.
Tuba: “Inang…………. Ucok………..” (berteriak)

Di tanah bekas pijakan istri dan anaknya itu, tiba-tiba ada mata air yang menyembur.
Makin lama makin besar. Air itupun menenggelamkan Tuba yang tak peduli lagi dengan apapun karena kehilangan istri dan anaknya. Lalu, air itu lama-lama menjadi sebuah kumpulan air yang luas yang biasa disebut danau. Oleh rakyat sekitar, danau ini disebut Danau Tuba yang namanya berasal dari nama laki-laki yang tenggelam itu. Namun, karena rakyat sekitar sulit menyebut Tuba, maka nama danau tersebut sekarang berubah menjadi Danau Toba..


Perjalanan Joko Tingkir

Nama asli Joko Tingkir adalah Mas karebet yang merupakan raja pertama kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Ayahnya yaitu Ki Ageng Pangging yang sering dikenal dengan sebutan Kebo Kenongo dihukum mati oleh kerajaan demak, karena dituduh sebagai pemberontak dan ibunya yaitu Nyai Ageng Pengging meninggal karena sakit.
Setelah yatim piatu, Mas Karebet diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir, dan di juluki Joko Tingkir. Joko tinggir tumbuh menjadi pemudah yang gagah berani, dan sangat menyukai bertapa. Joko Tingkir juga pernah berguru kepada sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela.
Joko Tingkir mengabdikan dirinya di kerajaan Demak atas saran dari Sunan Kalijaga. Dia tinggal di rumah saudara dari Nyi Ageng Tingkir, yaitu perawat Masjid Agung Demak dan berpangkat lurah ganjur, yaitu Kyai Gandasmustaka. Joko Tingkir pun menjadi kepala prajurit Demak yang berpangkat lurah wiratama, karena dia pandai menarik simpati Sultan Trenggono.

Pada kemudian hari, Joko Tingkir bertugas menyeleksi Calon Prajurit yang akan dimasukan ke dalam kelompok prajurit Joko Tingkir. Salah satu calon prajurit itu adalah Dadungawuk. Daduk awuk adalah orang yang sombong dan sering memamerkan kesaktiannya. Karena kesombongannya itu, Joko Tingkir berniat menguji kesaktiannya dengan tusuk Konde. Tapi ternyata Dadungawuk tewas seketika. Joko Tingkir dipecat oleh Sultan Trenggono dan diusir dari demak karena kejadian itu.
Joko Tingkir pergi dari demak dan berguru kepada sodara tua ayahnya, yaitu Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro. Setelah berguru dan merasa cukup menyerap ilmu, bersama ketiga murid Ki Ageng Banyubiru yaitu Mas Manca, Mas Wila dan Wragil kembali ke Demak. Dalam perjalanan menyeberangi sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit, mereka diserang siluman buaya, tapi siluman buaya dikalahkan oleh murid-murid tersebut hingga siluman Buaya membantu mendorong rakit hingga ke seberang.
Joko Tingkir mencoba mencari simpati kepada Sultan Trenggono yang pada saat itu sedang berwisata di Gunung Prawoto. Dia melepas seekor kerbau gila yang dinamai Kebo Danu. Kebau tersebut mengamuk setelah diberi mantra oleh Joko Tingkir, dengan memberi tanah kuburan di bagian telinga kerbau. Tidak ada yang mampu menghentikan Kerbau teresebut.
Joko Tingkir muncul dan menghadapi kerbau gila itu, dan dikalahkan dengan mudah. Atas kejadian itu, diangkatlah kembali oleh Sultan Trenggono menjadi lurah wiratama.

KISAH DONGENG TRAGEDI CINTA JOKO TINGKIR


         Alih-alih memandikan bayinya yang baru lahir ke sebuah sungai (sesuai tradisi yang berlaku dikeluarga mereka) Nyi Ageng Pengging didampingi mertuanya Nyi Ageng Tingkir justru mengalami peristiwa tragis dan mengejutkan. Yakni melihat Kebo Kenanga suaminya tercinta mati terbunuh.
Dalam marah dan panik, Nyi Ageng Pengging coba mengejar para pembunuh namun gagal, Nyi Ageng Pengging malah terpeleset jatuh ke sungai yang mengakibatkan Nyi Ageng Pengging mati seketika. Sementara bayinya yang terlempar nyaris disantap oleh seekor buaya pemangsa, tetapi keburu diselamatkan sepasang buaya putih setelah lebih dahulu bertarung menaklukkan buaya pemangsa. Pasangan buaya putih tersebut kemudian membawa sang bayi ke goa tempat mereka bersarang untuk dirawat dan dihidupi.
        Dan terjadilah keajaiban itu. Memasuki usia lima tahun, secara mengejutkan salah satu telur pasangan buaya yang belum juga menetes, sementara telur-telur lainnya sudah lama menetas, tiba-tiba menetas sendiri dalam pelukan bocah Nyi Ageng Pengging. Sempat tercengang melihat kelahiran bayi buaya, sang bocah yang saat itu tengah kelaparan langsung menyantap air ketuban serta pecahan-pecahan kulit telur bayi buaya tersebut.
Yang diluar dugaan justru memberikan kekuatan fisik maha dasyat pada dirinya, diluar kekuatan manusia normal pada umumnya. Oleh pasangan buaya putih, anak manusia yang mereka anggap anak sendiri itu kemudian mereka berinama Jaka Tingkir. Sementara bayi mereka sendiri yang baru lahir diberi nama Joko Tangkur. Dan dianggap saudara oleh Jaka Tingkir.
Khasiat dari apa yang dimakan oleh Jaka Tingkir terbukti lima tahun kemudian. Jaka Tingkir mampu menaklukan seekor banteng liar yang nyaris menyeruduk dan menghabisi nyawa Ayu Pembayun, bocah perempuan seorang konglomerat bernama Trenggono. Dan sekaligus juga mempertemukan Jaka Tingkir dengan nenek kandungnya, yakni Nyi Ageng Tingkir.
Yang setelah melihat tanda lahir ditubuh Jaka Tingkir langsung mengenali sang bocah sebagai cucunya yang hilang sepuluh tahun silam. Jaka Tingkir pun kemudian tinggal bersama neneknya, sambil sesekali diperbolehkan berkumpul dengan keluarga angkatnya, para buaya putih.
Lalu malapetaka itu pun terjadi. Untuk menghormati kepahlawanan Jaka Tingkir yang menyelamatkan puteri tercintanya dari amukan banteng, Trenggono mengundang Jaka Tingkir dan neneknya menghadiri jamuan makan di puri kediaman Trenggono. Yang justru berbuntut mengejutkan. Nyi Ageng Tingkir yang mengenali Trenggono sebagai salah seorang pembunuh ayah Jaka Tingkir, langsung menyeret pulang cucunya lalu menceritakan siapa dan peristiwa apa yang telah menimpa kedua orangtua kandungnya.
Yang menimbulkan kemarahan serta dendam dalam diri Jaka Tingkir untuk membalas kematian kedua orang tuanya suatu hari kelak. Niat serta kemarahan yang mau tidak mau menyebabkan Jaka Tingkir dan Ayu Pembayun berpisah dan tidak mungkin lagi berhubungan satu sama lain, meskipun mereka berdua diam - diam sudah saling jatuh hati pada pandang pertama.
Namun takfir berkehendak lain. Memasuki usia dewasa, saudara buaya Jaka Tingkir yaitu Joko Tangkur ditangkap oleh seorang pawang untuk dipersembahkan kepada Trenggono. Yang saat itu sangat membutuhkan tangkur buaya putih untuk mempertahankan stamina tubuh serta kharisma dirinya sebagai pengusaha sohor dan terhormat.



Hal mana membuat Jaka Tingkir marah besar dan dalam usahanya menyelamatkan Joko Tangkur mau tak mau mempertemukan kembali dengan Ayu Pembayun. Dan cinta lama yang sempat terbunuh, hidup dan bersemi kembali. Bahkan Ayu Pembayun sampai nekat memutuskan pertunangannya dengan Kebo Pamungkas, seorang pengusaha muda yang perusahaannya ikut menopang bahkan kemudian melakukan merger dengan perusahaan Trenggono.



Pemutusan pertunangan tersebut tentu saja membuat Kebo Pamungkas marah besar. Dan dalam kemarahannya, Kebo Pamungkas langsung menampilkan wujud dirinya yang sesungguhnya, yakni sosok jin mengerikan. Yang bangsanya pada masa dahulu telah digempur dan dimusnahkan leluhur Trenggono. Dan setelah menunggu ratusan tahun, Kebo Pamungkas melakukan pendekatan usaha sekaligus kekeluargaan dengan menikahi Ayu Pembayun demi mencapai sebuah tujuan mengerikan yang sudah lama ia rancang. Membalas dendam atas kematian para pendahulunya, sambil sekaligus melahirkan dan membangkitkan kembali bangsa jin yang telah punah. Melalui rahim Ayu Pembayun.


Petaka itulah yang harus dihadapi dan harus dituntaskan oleh Jaka Tingkir. Balas dendam atas kematian orangtuanya, sekaligus menyelamatkan kekasihnya Ayu Pembayun dari angkara murka sang jin/

Teks Drama Aladin

Latar belakang Aladin, seorang anak dari seorang Ibu yang janda, hidupnya sangat sederhana...
ketika itu dia sedang bermain kelereng dengan teman-temannya, tak lama kemudian seorang laki-laki agak tua datang (jafar) memanggil Aladin dan bekata 

Jafar : “hey kamu!!” (sambil menujuk ke arah Aladin) 
Aladin :” saya pak??” (sedikit kebingungan) “ke siapa sih??(tanya ke teman-teman yang lain) 
Jafar :”iya kamu, cepat kesini”  Aladin menghampiri paman tersebut 
Jafar :” kamu anaknya pa. Musthofa ya?!!” tanya Jafar meyakinkan 
Aladin :” iya, bapak benar, tapi ayah saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?!!” (terlihat agak sedih) 
Jafar :” kau harus tau, bahwa aku ini adalah paman mu nak” (menepuk pundak Aladin) 
Aladin :” benarkan itu??” (tanya aladin kebingungan) 
Jafar :” iya, aku Jafar Paman mu, sekarang aku akan membawa mu pergi ke suatu tempat, dan aku akan mengubah hidup mu yang sengsara itu” 

Lantas tanpa berfikir panjang Aladin mengikuti ke inginan yang di anggap pamannya itu, mereka pergi sangat jauh daari tempat Aladin bermain tapi, mereka pergi kesuah hutan yang sangat jauh dari pemukiman warga, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah Gua yang aneh, tak tampak seperti gua, tertutup rapat dan terjaga. 

Jafar :” bukalah !! bukalah!!” (sambil mengucapkan mantra) 

Seketika hutan itu bergoyang, dan gua pun terbuka, sangat gelap di dalam, namun terlihat sedikit cahaya gemerlap. 

Jafar :” masuklah ke dalam gua dan ambillah sebuah lampu” 
Aladin :” tidak paman, saya takut untuk masuk kedalam, saya tak berani” (melangkah menjauhi sang paman) 
Jafar :” baiklah kalau begitu, saya akan memberi mu, sebuah cincin yang akan menolongmu ketika kau berada di gua, cincin ini akan melindungi mu” (memberikan cincin dann memakaikannya di jari manis Aladin) 

Dengan penuh ketakutan, aladin masuk kedalam gua, dia berjalan dengan hati-hati, dan berjalan ke arah dia melihat cahaya gemerlap tapi. Disana ia melihat banyak sekali emas, dan ia temukan lampu yang di maksud si Paman. 

Jafar:” hai, Aladin cepat sini, cepat lemparkan lampu itu keluar !!” Aladin merasa ingin memiliki lampu itu, 
Aladin :” tidak!! Aku tidak akan melemparkannya, dan aku tidak akan memberikan nya pada mu sebelum aku keluar dari gua ini” 
Jafar :”Aaaarrgggg!!!!!!, anak sialan kamu!!” (marah besar) 

Dengan kemarahannya itu jafar, pergi meninggalkan gua, dan mengurung aladin di dalam nya 

Aladin:” bagaimana cara ku agar ku bisa keluar dari sini??” (kebingungan) “ada apa dengan lampu ini ya..

 lampu ini indah, apakah harganya juga sangat tinggi??” (menggosok lampu) Kemudian keluarlah jin dari lampu itu Jin:” hahahahahaha!! Ada yang bisa saya bantu tuanku??” (tangan disilang di dada) Aladin ketakutan dan pergi menjauh.. 

Aladin :” si..si..siapa..pa ka..ka..mu..”(mulut bergetar) Jin :”hamba ada jin dari lampu ajaib tuan, hamba akan melakukan semua yang tuan perintahnya” 
Aladin :” baiklah kalau begitu, keluarkan saya dari gua ini jin” sambil membawa beberapa emas dan lampu di karung nya, 

aladin lekas pulang ke rumahnya dan menceritakan semua yang telah terjadi ke pada ibu nya 

aladin:” ibu, saya mendapatkan emas dan lampu emas ini di sebuah gua. Ini bisa kita gunakankan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari bu” 
ibu:” iya aladin, terima kasih ya nak” 

kini rumah aladin tak lagi kumuh seperti dulu, semua kebuthannya terpenuhi dan hidupnya bahagia, ketika itu sambil menikmati kebahagiannya itu, aladin duduk diteras rumah, dan tak sengaja, aladin melihat seorang wanita cantik yang berjalan anggun melewati pandangannya... 

aladin:” alangkah cantik nya wanita itu” 

terlihat wanita separuh baya memanggilkan dengan nama Yasmin. bergegas aladin menemui ibunya. 

Aladin:” bu..ibu.. saya ingin menikah bu” sambi menggoyang-goyangkan badan sang ibu yang sudah tua itu 
Ibu:” kau ingin menikah dengan siapa, wahai anakku??” 
Aladin:” Yasmin, bu, nama nya Yasmin, seorang wanita cantik yang ku temui tadi” 

Setelah itu aladin pergi keseluruh penjuru desa untuk mencari tahu siapa dan dimana Yasmin tinggal Yasmin adalah seorang putri yang tinggal di sebuah kerajaan yang sangat megah Tak lama setelah mengetahui itu, Ibu aladin langsung pergi ke istana untuk melamar putri, putri dan raja menerima lamarannya, dan mereka ingin berkunjung ke rumah aladin Setelah pulang dari istana, kemudian Ibu menggosok lampu ajaib, dan meminta kepada jin, untuk di buatkan istana. 

Ibu: “ jin, tolong buatkan aku istana yang mewah” 
Jin:” apa pu yang kau perintahkan akan aku laksanakan” 

Tak beberapa lama setelah itu jin pergi dan datang kembali sambil membawa instana di punggungnya. Keesokan harinya, raja dan Yasmin datang ke istana Aladin dan melangsungkan pernikahanan disana Ditempat lain, jafar memantau keberadaan aladin, kini dia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, ada perasaan marah dan benci, dan jafar berniat untuk merebut kembali lampu ajaib itu dari tangan aladin. 

Jafar:” akan aku ambil kembali lampu itu, dan lihatlah apa yang akan tejagi kemudian.. hahahahaha”

 Kemudian jafar menyamar menjadi seorang penjual lampu.. 

Jafar:” lampu.. lampu.. lampunya bu.. lampu ini sangat indah dan akan menghiasi rumah bak istana kerajaan” 

Dari kejauhan datang seorang dayang kerajaan aladin, menghampiri tukang lampu tersebut 

Dayang:” indah sekali lampunya, namun aku tak punya cukup uang untuk membelinya..” 
Jafar:” tukarkan saja lampu usang di rumahmu, dan lampu indah ini akan menjadi milikmu, dan kamu tak perlu menambahkan seperser uang lagi untuk menggantinya” 
Dayang:” baik lah kalau begitu.. paman jangan dulu pergi kemana-mana yaaa, saya akan segera kembali “ 

Dayang pun lari menuju istana dan mencari lampu yang usang dan tak layak di pakai uantuk di tukarkan ke seorang tukang lampu, tak sengaja dayang melihat lampu ajaib milik aladin 

Dayang:” lampu ini jelek sekali, kuno lagi, lebih baik saya tukarkan ke tukang tadi agar tak merusak keindahan istana” 

Sekembalinya dayang sambil membawa lampu di tangannya 

Dayang:”paman ini lampunya, saya ingin menukarkan nya dengan sala satu lampu indah milik paman” 
Jafar:” silahkan ambil semua lampu-lampu ini, hahaha..” 

Jafar pergi kegirangan dengan membawa lampu milik aladin Dayang:” gila tu orang” (bergegas kembali ke istana) Di tempat lain. Jafar menggosok lampunya, dan meminta satu permintaan 

Jafar:” wahai jin.. patuhi perintah ku...” 
Jin:” baiklah tuan.. apa yang bisa hamba bantu tuan” 
Jafar:” pindah kan istana aladin dan seluruh isinya ke rumah ku!!” 
Jin:” baiklah tuan” Seketika itu, 

aladin hendak pulang ke istananya. Dan tak terlihat sesuatu apapun disana, 

Aladin:” kemana istana ku, istana ku hilang” 

Aladin termenung tan tak sengaja iya mengelus-ngelus cincin yang penah jafar merikan kepadanya dulu.. maka keluarlah jin dalam cincin nya 

Jin2:”hahaha... ada yang bisa hamba bantu tuan??” 

Sejenak aladin terkejut, lalu aladin meminta jin2 untuk mengambil kembali istananya yang hilang itu 

Jin2:” maafkan hamba tuan.. hamba tak mampu melakukan itu” 
Aladin:” baiklah kalau begitu bawa aku ke istana ku sekarang” 
Jin2:” siap tuan” 

Lalu aladin bersama jin cincin pergi ke istana aladin yang hilang itu, sesampainya disana, aladin mencari kamar Yasmin untuk menemui nya 

Aladin:” wahai istriku akhirnya ku temukan kamu”
 Yasmin:” iya aladin.. cepatlah segera ambil lampu itu di tangan jafar, dia sedang di kamarnya tergeletak karena kebanyakan minum tadi malam” 
Aladin:” baiklah, aku akan segera kesana” 

Aladin pergi meninggalkan yasmin dan mencari jafar, seketika itu aladin melihat jafar tergeletak di lantai, dan aladin cepat mengambil lampu yang ada di saku jafar, lalu aladin menggosok lampunya. Ketika jin keluar dari lampu, jafar tebangun dari tidurnya. Maka terjadilah hantaman dari jafar kepada aladin, namun jin, menghatam balik jafar, sampai akhirnya jafar tewas. Dan istana aladin dan siisinya, kembali ketempat semula. Yasmin dan Aladin kemudian hidup bahagia selamanya






1 komentar:

  1. pak boelh ijin untuk pakai naskah malin kundangnya untuk praktek anaknya temen di sekolah?

    BalasHapus