Translate

Senin, 04 November 2013

Naskah Drama Cinderela

Naskah Drama Cinderella

[INTRO: DI SEBUAH ISTANA, HIDUPLAH SEORANG GADIS CANTIK BERSAMA IBU TIRI DAN KETIGA KAKAK TIRINYA. GADIS INI MESKIPUN TERLIHAT KOTOR DAN PENUH DEBU, NAMUN SANGATLAH CANTIK DAN BAIK HATI. SEDANGKAN, IBU DAN KETIGA KAKAK TIRINYA SANGATLAH JAHAT. MEREKA MEMPEKERJAKAN GADIS INI DI RUMAHNYA SENDIRI. SETIAP HARI SI GADIS HARUS MENGERJAKAN SELURUH PEKERJAAN RUMAH. IBU TIRINYA SELALU MEMBENTAKNYA. SEMENTARA KETIGA KAKAK TIRINYA SELALU MEMANGGILNYA DENGAN SEBUTAN CINDERELLA, YANG ARTINYA GADIS KOTOR DAN PENUH DEBU. MENURUT KETIGA KAKAK TIRINYA, ITU ADALAH NAMA YANG COCOK UNTUK ANAK PEREMPUAN INI.]

***

[Babak ke 1. UNDANGAN]

[TEROMPET BERBUNYI. SEORANG UTUSAN KERAJAAN DATANG DIIRINGI PARA PRAJURIT, MENGABARKAN UNDANGAN PESTA RAKYAT YANG AKAN DIHELAT ISTANA. SEMUA ORANG BERKUMPUL, KECUALI CINDERELLA YANG HANYA BISA MELIHAT DARI BALIK JENDELA.]

Utusan Kerajaan: “Pengumuman… pengumuman… Sehubungan dengan akan diadakannya pesta rakyat di istana, maka pihak istana mengundang semua orang untuk turut serta. Silakan hadir pada saat acara berlangsung. Siapapun boleh turut serta. Oiya, pada pesta rakyat tersebut, Pangeran juga akan memilih calon pendamping dari para undangan. Jadi, dandan secantik mungkin, siapa tahu anda yang terpilih.”

[SEMUA ORANG, KHUSUSNYA PARA WANITA, BERSORAK-SORAI. TERMASUK, SAUDARA TIRI CINDERELLA, ANASTASIA, DRIZELLA, DAN FREDERICA.]

Anastasia: “Asyik… pasti Pangeran memilihku untuk menjadi ratunya. Karena, aku paling cantik di sini!”

Drizella: “Siapa kata? Pasti orang itu buta! Jelas aku-lah yang akan menjadi pendamping Sang Pangeran.”

Anastasia: “Kau?! Tidak bisakah kau berbicara sedikit halus?”

Frederica: “Sudahlah, tidak perlu diributkan. Karena yang akan menjadi pendamping Pangeran adalah aku.”

Ibu Tiri: “Hei, kalian ini. Tidak perlu bertengkar. Ibu yakin salah satu anak Ibu ada yang terpilih sebagai pendamping Pangeran. Tapi, siapapun dari kalian yang terpilih tidak perlu dipersoalkan. Karena, nantinya semua itu akan membuatku gembira.”

[SEMENTARA ITU, CINDERELLA YANG BERADA DI BALIK JENDELA KAMAR INGIN IKUT JUGA PESTA ITU.]

***

[Babak ke 2. KESEDIHAN]

[HARI H PESTA RAKYAT TIBA. ANASTASIA, DRIZELLA, FREDERICA, DAN MENGENAKAN GAUN TERBAIK YANG MEREKA MILIKI. MEREKA BERDANDAN DENGAN DANDANAN PALING CANTIK YANG BISA DILAKUKAN.]

Ibu Tiri: ”Hei, kalian, pakai ini, pakai itu, kau kurang ini, kau kurang itu.” [SIBUK MEMERHATIKAN MAKE UP KETIGA ANAKNYA.]

[CINDERELLA YANG HANYA BISA MELIHAT MEREKA BERDANDAN MENJADI SEDIH. SEBETULNYA, DIA JUGA INGIN BERANGKAT KE PESTA ITU. TAPI, IA MEMAHAMI POSISI DIRINYA, YANG TIDAK BISA IKUT DALAM PESTA RAKYAT ITU. APALAGI, IBU TIRINYA MELARANG. IA MENDESAH.]

Ibu Tiri: “Kau mau ikut?”

Cinderella: [Mengangguk. Matanya menyiratkan harapan.]

Ibu Tiri: “Dengan gaun apa? Pakaian yang kau punya kan lusuh-lusuh begitu? Apa mau pergi ke pesta dengan baju lusuh itu?”

***

[Babak ke 3. KEAJAIBAN]

[DI KAMAR.]

Cinderella: [MENANGIS TERSEDU-SEDU, KARENA HATINYA KESAL.] “Oh, Tuhan, seandainya ayah masih ada, takkan begini ceritanya. Pasti aku dibelikan gaun terindah untuk ikut pesta itu.”

[SAAT ITU, SEORANG PERI TIBA-TIBA MUNCUL DI HADAPAN CINDERELLA.]

Ibu Peri: “Jangan menangis, anakku. Tidak seharusnya kau bersedih. Tersenyumlah, supaya wajahmu bertambah cantik.”

Cinderella: “Bagaimana bisa aku tersenyum, Ibu Peri? Aku juga ingin datang ke pesta itu seperti kakak-kakakku. Tapi, gara-gara aku tidak punya gaun yang cantik, mereka tidak mengizinkanku.”

Ibu Peri: [TERSENYUM DENGAN RAMAH.] “Cinderella, bawalah empat ekor tikus, dua ekor kadal, dan satu labu yang besar.”

Cinderella: [MUKANYA BINGUNG.] “Untuk apa?”

Ibu Peri: “Sudah kau kumpulkan saja.”

[CINDERELLA MENGUMPULKAN EMPAT EKOR TIKUS, DUA EKOR KADAL, DAN SATU LABU BESAR SESUAI PERMINTAAN IBU PERI.]

Ibu Peri: “Sim salabim!” [MENGAYUNKAN TONGKAT SIHIRNYA KE HEWAN-HEWAN YANG DIBAWA CINDERELLA]

[Empat tikus berubah menjadi kuda. Dua kadal berubah menjadi sais. Dan labu besar berubah menjadi kereta berwarna emas.]

Ibu Peri: “Sepertinya kau membutuhkan gaun baru.” [MENGAYUNKAN TONGKATNYA KEPADA CINDERELLA.]

Cinderella: “Wah, bagus sekali gaun ini, Ibu Peri.” [MELIHAT GAUNNYA BERUBAH MENJADI GAUN BERWARNA PUTIH YANG CANTIK NAN ELEGAN.]

Ibu Peri: “Sebagai sentuhan akhir…” [Ibu Peri mengayunkan tongkatnya, dan tampaklah sepasang sepatu kaca.]

Cinderella: “Ibu Peri, ini… ini…” [TAK KUASA MENAHAN RASA HARUNYA, MEMELUK IBU PERI.]

Ibu Peri: “Oke… oke… Tapi, kau harus ingat bahwa pengaruh sihir ini akan lenyap selepas pukul dua belas malam. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam.”

Cinderella: “Baiklah, Ibu Peri, aku akan mengingat hal tersebut.”

Ibu Peri: “Sekarang berangkatlah!”

[CINDERELLA NAIK KERETA KUDA EMAS, YANG MEMBAWANYA BERANGKAT MENUJU ISTANA.]

***

[Babak ke 4. PUTRI CANTIK DATANG]

[CINDERELLA TIBA DI ISTANA DAN LANGSUNG MASUK KE AULA ISTANA. BEGITU MASUK, PANDANGAN SEMUA YANG HADIR TERTUJU PADA CINDERELLA. MEREKA SANGAT KAGUM DENGAN KECANTIKAN CINDERELLA, TERMASUK SANG PANGERAN.]

Pangeran: “Putri yang cantik, maukah menari dengan saya?” [SAMBIL MENCIUM PUNGGUNG TANGAN CINDERELLA.]

Cinderella: “Baiklah, Pangeran.”

[CINDERELLA DAN PANGERAN MENARI DALAM ALUNAN MUSIK YANG SYAHDU DIIRINGI PANDANGAN IRI MATA SELURUH TAMU YANG HADIR. IBU DAN KETIGA KAKAK CINDERELLA MERASA IRI PADA PUTRI CANTIK ITU, MEREKA TIDAK MENDUGA BAHWA PUTRI CANTIK ITU ADALAH CINDERELLA.]

Pangeran: “Selama ini, saya mengidamkan wanita seperti Putri.”

Cinderella: [Tersipu-sipu]

[KEDUANYA TERUS BERDANSA HINGGA TIDAK TERASA WAKTU SUDAH MENUNJUKKAN PUKUL DUA BELAS MALAM. LONCENG PUN BERDENTANG-DENTANG.]

Cinderella: “Maaf Pangeran, saya harus segera pulang!”

[CINDERELLA LANGSUNG BERLARI PULANG. DI TENGAH TANGGA, SEPATU KACANYA TERLEPAS. TAPI, CINDERELLA TIDAK MENGGUBRISNYA. IA TERUS BERLARI. PANGERAN MENGEJAR CINDERELLA. TAPI, IA KEHILANGAN JEJAK CINDERELLA. PANGERAN MENEMUKAN SEPATU KACA MILIK CINDERELLA DI TENGAH TANGGA.]

Pangeran: “Aku akan mencarimu.”

[DI TENGAH JALAN PULANG, CINDERELLA BERUBAH KEMBALI MENJADI GADIS PENUH DEBU. NAMUN, IA SUDAH CUKUP BAHAGIA.]

Naskah drama Asal Nama Danau Toba


“ Asal Usul Danau Toba”
Disusun Oleh :
Andri J. Laksana sebagai Pa Toba
Andika Galih P. sebagai Samosir
Lufita Aditya sebagai Putri
Juliana Limbong sebagai Perempuan 1
Poppy Aprilia S. sebagai Perempuan 2

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hiduplah seorang petani bernama Pa Toba. Ia seorang petani yang hidup seorang diri dan rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Di suatu pagi yang cerah, petani itu pergi memancing di sungai.
Petani              :Ya Allah., Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar.

Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kail tersebut bergoyang-goyang lalu ia segera menarik kailnya.
Petani              :Terima kasih Tuhan, kau memberikanku ikan yang besar, dan ikan ini juga indah sekali. Sisiknya berwarna merah bersinar seperti emas. Hmmm…. Pasti nikmat sekali bila ku makan nanti..
Putri                :Tunggu, kau jangan memakan ku..! Aku bersedia menemanimu asal aku tidak kau makan.
Petani              : Oops….! Siapa yang bicara itu..?? Ada suara, tetapi.. tak ada orang.
Putri                :Ini, aku yang bicara.
Petani              :whaaat..??

Petani melepaskan kailnya tanpa sengaja dan ikan tersebut jatuh. Kemudian tidak berapa lama ikan tadi berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
Putri                :Jangan takut pak, aku juga manusia sama seperti engkau. Aku sangat berutang budi padamu karena kau telah menyelamatkanku dari kutukan Sang Dewata. Aku bersedia menjadi istrimu.
Petani              :Benarkah..??
Putri                :Tentu saja..
Petani              :Ngomong-ngomong., siapakah namamu?
Putri                :Namaku Putri, dan kau?
Petani              :Namaku Toba. Mari kita lekas pulang. Aku sudah tak sabar ingin memberitahukan bahwa kau telah menjadi istriku. Hahha…
Putri                :Tapi Toba, ada satu hal yang harus kau rahasiakan tentang diriku. Aku mohon kau tidak menceritakan asal usulku yang berasal dari ikan, karena jika masyarakat itu tahu akan hal tersebut pasti akan terjadi bencana besar yang melanda desa ini.
Petani              :Baiklah, percayakan semua ini padaku. Ayo kita pulang.

Lalu Pa Toba dan Putri pun pulang ke rumah. Saat mereka memasuki kampong Pa Toba, ada beberapa orang yang tidak suka akan kehadiran Putri.
Perempuan 1   :Hei inang, tahu tidak kau itu si Toba tadi ku tengok membawa pulang seorang cewe. Waah.. bodinya mantap.
Perempuan 2   :Baah…. Alaah, paling sic ewe itu dia guna-guna biar tertarik padanya. Kau kan tau si Toba itu BUPUK, alias Bujang Lapuk.
Perempuan 1   :Oh iyayah.. Pintar kali kau ini.
Perempuan 2   :Sudahlah, lekas kita pulang jijik aku melihatnya.

Sebenarnya Putri Mendengar hal tersebut, tetapi dia tidak langsung mengambil pusing. Mereka pun pulang ke rumah dan menjalankan kehidupan mereka layaknya sepasang suami istri. Pa Toba merasa bahagia dan tentram. Setahun kemudian, kebahagiaan Pa Toba dan Putri bertambah karena Putri melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Samosir. Samosir tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang sehat dan kuat, tetapi agak nakal. Ia mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu selalu merasa lapar dan ia juga selalu membuat jengkel kedua orangtuanya karena ia tidak pernah mau membantu pekerjaan orang tuanya.


Petani              :Ibu, mana makan siang untukku?
Putri                :Tadi sudah kusiapkan di atas…..
                         Wah Samosir, ke mana makanan tadi?
Samosir           :Sudah kuhabiskan bu.. kan saya ini masih dalam masa pertumbuhan. Sekarang pun sebenarnya aku masih lapar, tapi sudahlah.. aku pergi bermain dulu yaa bu.. dadah bapa…
Petani              :Samosir…!!!! Ah ibu ini selalu saja memanjakan dia, saya ini lapar bu..
Putri                :Sabar ya pak, ingatlah dia kan buah hati kita satu-satunya. Jangan sampai hal sepele seperti ini membuatmu emosi.
Petani              :Ya sudahlah buu.. Buatkan aku makanan sajalah.., perutku sudah lapar sekali.
Putri                :Tunggulah, aku akan membuatkannya.

Petani itu masih bisa menahan kesabarannya. Namun kesabaran seseorang itu pasti ada batasnya. Sampai suatu ketika petani tersebut tidak dapat menahan amarahnya.
Putri                :Samosir, Bantu ibu nak..
Samosir           :Apa sih buu.. aku sedang asyik bermain nih..
Putri                :Bawakan bekal ini untuk bapamu di sawah. Kasihan dia sudah menunggu.
Samosir           :Ah, ibu sajalah yang pergi.
Putri                :Ibu sedang masak Samosir. Cepatlah kau antarkan, nanti bapamu marah.
Samosir           :Ah ibu ini., menggangguku saja. Sini..!!

Dari awal Samoair memang sudah tidak berniat makanan tersebut. Sesampainya di pertengahan jalan.
Samosir           :Jalan ke sawah saja sudah membuatku lelah, lebih baik kumakan saja bekal bapa ini.

Tanpa sadar bekal tadi telah habis dimakan oleh Samosir. Lalu dengan perasaan tak bersalah, Samosir pun pulang dan melanjutkan permainannya. Bapanya yang sudah kepanasan dan kelaparan menunggu memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah.,
Petani              :Ibu, mana bekal makan siangku..? Kau siapkan tidak, Haah???
Putri                :Tadi kusuruh Samosir untuk mengantarkannya Pa. .
Petani              :Samosir, kemari kau..!!
Samosir           :Apa sih pa? Aku lagi asyik main nih..
Petani              :KAU KEMANAKAN BEKAL MAKAN SIANGKU ??
Samosir           :Aku makan pak.. Habisnya, perjalanan ke sawah membuatku lelah dan lapar..
Petani              :Anak tidak tau diuntung..!!! Tak tau diri…!! Dari tadi aku kelaparan menunggu makanan itu, dan sekarang makanan itu sudah habis… DASAR ANAK IKAN…!!!!
Samosir           :Ibu….,,,,,
Putri                :Cepat kau lari nak…..
                         Bapa, kau telah melanggar janji kita.
Petani              :Tapi aku tidak sengaja, aku sedang emosi. Maafkan aku Putri.
Putri                :Terserah apa katamu… Terimalah apa yang terjadi nanti..!!

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, seketika itu juga Samosir dan Putri hilang lenyap tanpa jejak dan bekas. Tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras, sehingga desa petani serta desa yang ada di sekitarnya terendam membentuk sebuah danau dan terdapat pulau kecil di tengahnya. Pulau itu kini dikenal dengan nama Pulau Samosir karena banyak orang beranggapan di sanalah Samosir berdiri untuk menyelamatkan diri, dan danau yang ada di sekitarnya disebut dengan Danau Toba yang merupakan desa di mana Pa Toba tinggal dan terkena rendaman air yang sangat deras itu

naskah drama roro Jongggrang

Naskah Drama Roro Jonggrang
                                                                    by: Destria dan Kiki (11 IPS 2)

    Pada zaman dahulu kala di Prambanan Jawa Tengah,berdiri dua buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging dipimpin oleh raja yang bijaksana yaitu Prabu Damar Moyo. Dan mempunyai seorang anak putra yang bernama Raden Bandung Bondowoso. KratonBoko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yangdi perintah oleh raja yang tidak berwujud manusia yaitu raja Prabu Boko yang memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama putri Roro Jonggrang. Prabu Boko juga memiliki Patih raksasa yaitu Patih Gupolo. Prabu Boko ingin menguasai Kerajaan Pengging,maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal. Setelah persiapan dirasa cukup maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit. Sesampainya di kerajaan Pengging ..
Pengawal Damar Moyo: Siapa kalian? dan mengapa kalian datang kesini?
Patih Gupolo: Kami dari kerajaan Kraton Boko,kami ingin merebut kekuasaan kerajaan ini
Pengawal Damar Moyo: Ooohh TIDAK BISA! sbelum kalian menghadap raja,hadapilah kami dahulu
Prabu Damar Moyo: Apa salah kami sehingga kalian ingin merebut kekuasaan dari kerajaan ini
Patih Gupolo: sudahlah raja kita serang saja mereka!
    Terjadilah pemberontakan antara kedua kerajaan. Banyak korban berjatuhan dikedua belah pihak dan rakyat pengging menjadi menderita. mengetahui rakyatnya menderita maka dia mengutus anaknya Bandung Bondowoso untuk balas dendam kepada Prabu Boko.
Prabu Damar Moyo: Wahai anakku.. balaskanlah dendam ayah pada kerajaan Boko,karena mereka rakyat kita menjadi miskin dan kelaparan
Bandung Bondowoso; Baiklah ayah akan aku lakukan
   Maka berangkatlah Bandung Bondowoso menuju kerajaan kraton Boko, ketika di perjalanan ia bertemu dengan Patih Gupolo dan Prabu Boko
Patih Gupolo: Siapa kau? sepertinya kau bukan rakyat dari kerajaan ini
Bandung Bondowoso: Memang bukan! aku adalah Raden Bandung Bondowoso putra Prabu Damar Moyo dari kerajaan Pengging. Tujuan ku datang kesini ingin membalaskan dendam ayahku terhadap rajamu
Prabu Boko: ada apa ini? dan siapa kau?
Bandung Bondowoso: aku adalah Bandung Bondowoso aku ingin membalaskan dendam ayahku padamu karena kau telah membuat rakyat ku menjadi menderita
   Dan terjadilah perang yang sangat sengit anatara Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Bandung Bondowoso prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas maka patih Gupolo melarikan diri dan Raden Bandung Bondowoso mengejar patih ke kerajaan kraton Boko. Sesampainya di kerajaan Boko..
Patih Gupolo: putrii..putrii (sambil tergesa2)
Roro Jonggrang: ada apa patih? apa yang telah terjadi?
Patih Gupolo: Ayah putri telah tewas dibunuh oleh Bandung Bondowoso
    Setelah Patih Gupolo melaporkan pada Putri Roro Jonggrang maka menangislah putri,sedih hatinya karena ayahnya tewas,dan Patih Gupolo pun pergi meninggalkan Kerajaan Kraton Boko. Sesampainya Bandung Bondowoso di Kraton Boko terkejutlah ia melihat Putri yang cantik jelita
Bandung Bondowoso: Wahai putri yang cantiksiapa namamu?
Roro Jonggrang: aku adalah putri Roro Jonggrang
Pengawal Roro: siapa kau?
Bandung bondowoso: Aku adlah Raden Bandung Bondowoso putra dari kerajaan Pengging
Pengawal Roro: Putri bukan kah dia orang telah membunuh ayahmu (sambil berbisik pada putri)
Roro Jonggrang: Benarkah?
Bandung bondowoso: Maukah kau menikah denganku?
Roro Jonggrang: tidak semudah itu kau ingin menikahiku. aku punya satu permintaan,buatkanlah aku 10 candi dalam waktu 1 malam. apakah kau sanggup?
Bandung Bondowoso: Baiklah apapun akan aku lakukan untukmu
   Bandung menyanggupi permintaan putri tersebut. Maka segerlah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin utnuk membuat kan 10 candi. Ketika mengetahui bahwa candi yang dibuat Bandung akan selesai,maka putri pun memgumpulkan para gadis
Roro Jonggrang: Wahai para gadis! buatlah keadaan agar seolaholah waktu telah pagi
Gadis 1: Dengan cara apa apa putri?
Gadis 2: Apa yang harus kami lakukan?
Roro Jonggrang;  Kalian harus menumbuk lesung padi dan membuat cahaya untuk menerangi candi.
Gadis 3&4: Baiklah putri perintah akan kami lakukan.
    Ketika para gadis menumbuk padi serta di Timur kelihatan terang dan ayam pun berkokok bergantian. Maka para jin berhenti membuat candi
Jin 1: Tuan maaf kami belum menyelesaikan 1 candi lagi karena hari sudah pagi
Semua Jin: Maafkan kami tuan kami harus pergi (meninggalkan Bandung)
Bandung Bondowoso: Mengapa para jin pergi padahal firasatku pagi belum tiba
  Tidak lama Roro Jonggrang menemui Bandung Bondowoso
Roro Jonggrang: Bagaimana? apakah kau sudah menyelesaikan 10 candi itu
   Roro pun menghitung candi dan ternyata jumlahnya hanya 9 candi,tinggal 1 candi yang belum jadi
Roro Jonggrang: Aku sudah berkata bahwa aku menginginkan 10 candi. tapi mengapa hanya 9 candi tang baru selesai?? aku tak mau menikah dengan mu
  Lalu para Gadis datang menemui putri dan Bandung Bondowoso
Bandung Bondowoso: Kau kan yang telah menyuruh para gadis menumbuk padi dan membuat cahaya agar keadaan menjadi pagi
Roro Jonggrang: Siapa para gadis itu? aku tak menyuruhnya!!
Gadis 3: kau mengenal kami putri !
Gadis 4: Dan kau juga yang menyuruh kami!
Semua Gadis: Kau telah berbohong putri!
Bandung Bondowoso: Semuanya sudah jelas,, kau memang cantik tapi hatimu tak secantik rupamu. padahal aku mencintaimu dengan setulus hatiku. terkutuklah kau putri menjadi candi yang ke 10
  Dan sampai sekarang arca patung Roro Jonggrang masih ada di candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (tua) karena telah membantu Roro Jonggrang, dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa berpacaran di Candi Prambanan akan putus cinta.

naskah drama malin kundang


Naskah dramaa
Malin Kundang
PROLOG: dulu, hiduplah seorang wanita tua dengan anaknya yang bernama Malin. Mereka hidup menderita dan bergantung pada hasil hutan.]
Ibu: "Malin, datang ke sini anak, membantu saya untuk membawa kayu bakar ini. "
Malin: "Ya ibu, tunggu sebentar." (Malin membantu ibunya)
Malin: "Ibu, berapa lama kita akan bertahan dengan kondisi ini? Saya ingin ada perubahan dalam hidup kita."
Ibu: "Entahlah, Ibu tidak tahu Malin, kita harus bersabar dan jangan berhenti berdoa kepada Allah. "
Malin: "Ibu, aku punya ide, biarkan aku pergi untuk mengubah keberuntungan saya? Siapa tahu aku akan menjadi orang kaya."
Ibu: ...
[Malin dan ibunya kembali ke rumah, tapi ibunya hanya diam tentang ide. Setelah mereka tiba di rumah.]
Malin: "Bu, bagaimana dengan ide saya?"
Ibu: "Saya pikir itu bukan ide yang baik anakku. Karena, jika kamu pergi, siapa yang akan menjagaku di sini."
Malin: "Tapi Ibu, jika saya tidak mengubah peruntungan, bagaimana kita bisa bertahan? Saya berjanji Ibu, jika bisa menjadi orang kaya, saya akan kembali. Tenang saja Ibu, saya akan berbicara dengan Dayat, supaya menengok Ibu setiap hari hingga saya kembali ke rumah."
[Ibu Malin tidak bisa melarang apa Malin inginkan. Akhirnya, dia setuju dengan ide Malin.]
Ibu: "Baiklah, jika itu memang keinginanmu, Malin! Tapi, kamu harus pegang janjimu untuk kembali ke kampung ini."
[Malin pergi ke rumah Dayat untuk memintanya menjaga ibunya, hingga ia kembali dari perantauan membawa uang yang banyak. Dayat merupakan sahabat Malin, yang selalu ke mana-mana suka maupun duka.]
Dayat: "Kamu mau ke mana, Malin?"
Malin: "Besok, aku akan merantau untuk mengubah nasib."
Dayat: "Apa? Jika kamu pergi merantau, siapa yang akan menjaga Ibumu di sini?"
Malin: "Karena itu, aku mendatangimu. Aku ingin menjaga Ibuku—tengoklah ia setiap hari itu sudah cukup baginya—hingga aku kembali.”
Dayat: "Oh, baiklah kalau begitu. Ingat pesanku untukmu, jangan lupakan kita yang ada di sini, Malin."
[Keesokan harinya, Ibu Malin mengantarkan anaknya ke pelabuhan.]
Ibu: "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Cepatlah pulang, setelah kamu sukses di rantau.”
Malin: "Ya Ibu, doakan saya supaya saya cepat mendapat rezeki yang banyak.”
Malin: “Dayat, tolong kamu jaga Ibu saya baik-baik. Terima kasih sebelumnya. Selamat tinggal.”
Dayat: "Jangan khawatirkan soal itu, Malin. Saya berjanji akan merawat ibumu sepenuh jiwa raga saya. Jaga dirimu baik-baik. "
Ibu: "Selamat jalan, Anakku."
Dayat: "Selamat jalan, Malin."
[Akhirnya, Malin memulai peruntungannya di perantauan. Ia pergi berlayar dengan saudagar kaya. Di kapal, Kapten memberinya pekerjaan sebagai kru. Kapten memiliki putri semata wayang, yang telah menjadi seorang anak gadis cantik. Nama anak gadis Kapten adalah Ningrum. Ketika Malin melihatnya, ia jatuh hati. Hal ini memberikan semangat kepada Malin untuk bekerja lebih giat lagi.]
Malin: (Berkata di dalam hati, saat melihat Ningrum mendatanginya) "Ningrum sangat cantik. Aku menyukainya, dan harus menikahinya. Dengan begitu, jika sesuatu terjadi pada ayahnya, warisannya akan jatuh ke tanganku, sehingga aku akan menjadi orang kaya.”
Ningrum: "Apakah kamu melihat ayahku?”
Malin: "Hmm, saya tidak melihatnya. Mungkin ia pergi ke dapur. Cobalah ke sana untuk melihatnya."
Ningrum: "Oh, baiklah. Saya akan ke sana menemuinya."
Malin: [Tersenyum] "Ya, silakan Nona. Apakah perlu kuantar?”
Ningrum: [Hanya tersenyum, sambil berjalan meninggalkan Malin.]
[Sementara itu, di kampung halaman Malin, Ibu Malin sangat gelisah. Ia resah bagaimana Malin menjalani kehidupannya di perantauan. Apakah Malin sehat? Apakah Malin bisa menjaga dirinya baik-baik? Semua pertanyaan-pertanyaan khas orang tua yang khawatir akan anaknya menggelayut menjadi beban pikiran Ibu Malin. Sementara itu, ia juga khawatir Malin tidak pulang kembali ke kampung halamannya, dan melupakan dirinya.]
Ibu: "Dayat, saya rindu sekali dengan Malin. Kira-kira, kapankah ia kembali? Apakah ia baik-baik saja saat ini?
Dayat: "Jangan takut, Ibu. Malin akan pulang. Ia telah berjanji. Sementara itu, biarkan saya menjaga Ibu.”
Ibu: "Ya, terima kasih, Dayat. Entah, apa jadinya saya tanpa bantuanmu."
Dayat: “Jangan terlalu dipikirkan, Ibu.”
[Suatu hari, kapten memanggil Malin, karena ia akan menaikkan jabatan Malin atas prestasi kerjanya selama ini. Dengan jabatan ini, dalam beberapa tahun, membuat Malin menjadi orang kaya.]
Malin: "Sekarang, saya kaya raya. Saya dapat membeli semuanya dengan uang saya. Karena itu, Ningrum harus menikah dengan saya.”
[Semakin hari, Ibu Malin semakin merindukan anaknya. Ketuaannya membuat ia lelah menunggu Malin. Namun, Dayat selalu memberikan dukungan untuk Ibu Malin, bahwa Malin yang akan datang kembali dan orang kaya.]
Dayat: "Jangan sedih, Ibu."
Ibu: "Saya lelah, Dayat. Saya lelah menunggu Malin. Kita tidak pernah mendapatkan berita dari Malin sedikit pun.”
Dayat: "Saya percaya Ibu, bahwa Malin akan datang kembali dan menjadi orang kaya.”

Ibu: "Apakah kamu yakin, Dayat?"
Dayat: "Ya, Ibu. Jangan sedih lagi ibu."
[Setelah Malin telah menjadi orang kaya, Malin menikahi Ningrum. Mereka hidup bahagia dan menjadi pasangan yang romantis.]
Malin: “Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?”
Ningrum: “Malin suamiku, kita kan sudah menikah. Bagaimana kalau kita berbulan madu?”
Malin: “Sepertinya, itu ide bagus, bagaimana kalau kita Pulau Dua Angsa?”
Ningrum: “Wah, pulau itu sangat bagus. Saya setuju.”
Malin: “Oke! Kalau begitu, kita ke sana besok.”
[Keesokan harinya, Malin serta istrinya berlayar ke Pulau Dua Angsa. Dalam perjalanannya, mereka singgah ke kampung halaman Malin, untuk mengisi berbagai perbekalan. Tapi, Malin tidak menemui Ibunya seperti yang telah dijanjikan. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar dermaga saja. Ketika itu, Dayat – sahabat Malin – melihatnya.]
Dayat: "Malin? Apakah dia Malin? Ya, seperti dia adalah Malin. Saya harus mengatakan itu kepada Ibunya."
[Dayat pergi ke rumah Ibu Malin untuk mengabarkan kedatangan Malin. Ia sangat senang mengetahui Malin datang ke kampung halamannya. Jika, Ibu Malin mengetahui berita ini, tentu hatinya bahagia.]
Dayat: "Ibu... Ibu ..."
Ibu: "Ya, saya di sini, Dayat."
Dayat: "Ibu, Malin pulang. Ia ada di pelabuhan sekarang. Tampaknya, ia telah menjadi orang kaya sekarang!"
Ibu: "Apa kamu yakin kalau yang kamu lihat adalah Malin?"
Dayat: "Ya, saya yakin Bu. Saya tidak mungkin bisa melupakan wajahnya. Saya masih ingat wajah Malin."
Ibu: "Jika apa yang kamu lihat benar, ayo temani saya pergi ke sana."
[Dayat mendampingi Ibu Malin untuk menemui anaknya. Sesampainya di pelabuhan, Ibu Malin memang melihat anaknya. Saking harunya, air mata keluar dari matanya. Ia memanggil Malin dari kejauhan untuk kemudian mendekatinya.]
Ibu: "Malin, Malin, anakku! Malin …"
Ningrum: "Siapa itu wanita tua, Suamiku?"
[Malin tidak menjawab pertanyaan Ningrum, karena tenggorokannya tercekat tidak bisa menjawab pertanyaannya dari istrinya.]
Ningrum: "Siapa dia, Suamiku?"
Ibu: “Malin, siapa ia? Apakah ia Istrimu? Ia sungguh wanita yang sangat cantik.“ [Ibu Malin membuka tangannya untuk memeluk menantunya.]
Ningrum: [Tapi, Ningrum menepis pelukan itu.] "Issh, jangan sentuh aku!"
Malin: "Jangan kamu menyentuhnya! Dasar wanita kotor! Kulitmu bisa mengotori kulitnya!"
Ningrum: "Siapa wanita tua ini, Malin? Benarkah ia Ibumu? Uh, ia benar-benar sangat kotor."
Malin: "Saya tidak tahu. Saya tidak mengenal wanita ini. "
Ibu: "Malin, anakku. Kenapa kamu ini, Nak? Apa salah Ibu? Aku ini Ibumu. Ibumu. Kamu telah berjanji untuk kembali ke kampung ini untuk menemuiku, jika kamu sudah kaya. Sekarang kamu sudah kaya, dan bukankah kedatanganmu ke sini untuk menemuiku?”
Malin: "Cih, Ibuku? Mengaku-ngaku saja kamu sebagai Ibu? Saya tidak mengenal kamu. Jika saya kaya, tentu Ibu saya juga kaya. Tidak sepertimu, kotor dan bau!”
Ibu: "MALIN!!!” [Ibu Malin berkata keras.]
Ibu: “Saya Ibumu—ibu yang telah melahirkanmu! Saya bisa mengatakan fakta tentang dirimu."
Ningrum: "Pergi saja kamu, wanita tua."
Ibu: "Malin ... Malin ..."
Malin: "Pergi. Pergilah sekarang, kamu!"
Dayat: "MALIN! Lupakah kamu terhadap Ibumu? Lupakah kamu terhadap saya—sahabat baikmu? Ini Ibumu, Malin. Ibumu."
Malin: "Tidak, saya tidak lupa. Saya benar-benar tidak mengenal kamu dan wanita tua itu. Seingat saya, saya tidak pernah memiliki sahabat sepertimu."
Dayat: "Jahat, kamu! Celakalah kamu, Malin."
Ibu: "Ingat saya, Nak? Saya adalah ibumu."
Dayat: "Tolong, ingat ibumu, Malin. Ia selalu menunggumu kembali ke kampung halamanmu. Ingatlah janjimu, Malin."

[Malin tidak peduli. Ia menyeret Ibunya dengan kasar, hingga wanita tua itu jatuh tersungkur.]
Malin: Jangan panggil aku sebagai anakmu, wanita kotor! Ayo, Ningrum, kita harus pergi secepatnya dari tempat ini sebelum wanita ini mengotori wajah kita."
Ningrum: "Ya, Suamiku."

[Setelah mendorong paksa Ibunya pergi, Malin kembali ke kapalnya. Sementara Ibunya, masih berteriak memanggil-manggil namanya.]
Ibu: “Malin ... Malin ... Jangan biarkan Ibumu Malin!!!“
[Hilang sudah kesabaran Ibu Malin melihat tingkah anaknya. Lalu, dengan kesal ia mengucap asal kalimat “jadilah batu!”. Kata-kata seorang Ibu yang sedang marah menjadi doa yang didengar oleh Tuhan.]
Ibu: “Ya Tuhan, kenapa anakku seperti itu? Apa salahku? Apa dosaku? Ia sama sekali melupakanku. Saya tidak terima perlakuan itu darinya. Sekarang hilang sudah kesabaranku. Aku mengutuknya: Jadilah batu!!!”

[Setelah itu, tiba-tiba datanglah badai menghancurkan Kapal Malin, petir menyambar tubuhnya. Dan ...]

Malin: “Apa yang terjadi? Tubuh saya tidak bisa digerakkan! Maafkan saya, Ibu. Maafkan saya ...!”

Ningrum: “Apa yang terjadi? Apa yang terjadimu, Malin? Kamu kenapa?”

[EPILOG: Malin pun berubah menjadi batu, ketika ia meminta ampun kepada Ibunya. Kapal, kru serta istrinya tenggelam ke dasar laut. Itulah hasil jika kita memberontak kepada orang tua kami terutama untuk ibu kita.]